Tuesday, November 21, 2017

DEWI [DEWI PARWATI]



                                              
Indah malam ini
di bebatuan yangg menyibak lautan giri emas..
menjadikan ku mengenang
kisah indah yangg tak kan terhempas angin
kerinduan yang tlah berdetak di urat nadi
kini mampu geliatkan desah nafas
Dewi.....
Pancarkan kasihmu dengang bias cinta
agar jalan yang ku lalui
tak kan berbatu lagi

 

Sendiri menepis sunyi

malam terkulai lemah,
menyerah pada sunyi
ditikam sepi
menusuk jantung puisi.
berlari melawan kisah
sumbang mata menatap arah,
serak dan pecah, terbelah
suarakan rindu takhlukan bunyi,
gelisah dalam isyarat bertanda
dibalik diamnya semesta
tersembunyi diujung bait
sendiri dalam sebuah puisi.

Petuah Kehidupan

         Petuah Kehidupan               

Panah khilaf menembus jantung tak terduga
Pakar terkapar dikenang diatas daun lontar
Gugat salah berkalang tanah tiada guna
Harap sinyal kasih sayang-Nya menukik kedalam jantung hati
Sepakat mufakat ikuti janji suci dalam dukungan bunda
Sucinya Ikan memicu kehendak mengangkat martabat
Tidak menunggu pekan depan, sekarang juga
Tegas konsisten jangan seperti karet

Gugah nurani pelebur dosa
Ikhlas hayati hidup dalam sangkar cahaya rumah indah
Laku unggul hendaklah ditebarkan
Kentalnya sifat ningrat dijaga ketat
Ikuti panduan yang telah ditetapkan
Tarian Jari menari diatas putihnya media
Berbagi yang hasilnya berkembang seperti bulir padi
Mawar tolak upah semerbaknya
Tolak tengkar sesama, bertengkar dan kalahkan diri
Kebut pacu waktu mengejar setoran pahala
Senyum bibir kulum tersungging pada akhirnya

Sunday, November 19, 2017

Biarkan Aku Melintas Di Fana Ini

             Biarkan Aku Melintasi Fana Ini



Aku ini warna warna yang tertumpah
Di atas bentangan putih bersih
Terlihat acak di matamu
Caci dan hina berkelakar sudah
Begitu cepat kau vonis
Sebelum jariku menari
Warna itu kan kususun dengan hayalku
Baik buruk kehidupan kan kubentuk dalam keindahan
Tawa tangis jadi seni pandang yang tak terbatas
Jadilah hiasan dinding jaman
Setelahnya...
Tiada guna kau sadari diri
Hina cacimu tlah torehkan luka
Walau maafku tlah terujar
 Hati tak pernah dusta
Pernah luka oleh runcingnya hina cacimu

PUISI CINTA



                      Kusadar
Tertulis indah namamu dalam sunyi kalbuku
Lembut bayanganmu kugapai dalam tatapan sunyi
Rima indah sang pendosa,prosa dawai menepis karma
Sajak malaikat tak seindah alunan pandora...
Diam dan kelu seluruh jiwa terbuai asa dalam cita
Tak ubah angin membelai sukma,jauhkan duka nestapa
Semua kan menjadi riang diantara dekap tutur kata sang pendosa
Angkara mencari keberkahan hidup
Kubisikkan bait rasa pada mimpi...
Riuh tepuk iblis iblis kecil,terbahak ria menatap diri
Saat kugeluti ragamu....
Kau hanya bayang semu yang selalu hiasi anganku
Dan kau hanya pantas kukagumi...
Dan tak pantas kumiliki...

Saturday, November 18, 2017

Puisi tentang semangat ayah menghidupi anaknya

       
        
        Untukmu Malaikat kecilku

Terbangun dari mimpi semalam
Hembuskan napas harapan
Rangkai strategi tuk habiskan hari
Untuk kalian.
Wajah wajah polos tanpa dosa yang selalu membuatku tersenyum 
Walau remuk redam seluruh tubuh di kala senja
Semua kan sirna 
Tersapu celoteh kalian malaikat2 kecilku
Yang kupinta
Untaian senandung Doa
Agar tak ada kerikil dan karang yang menghalang
Di setiap tapak kehidupan yang kuselusuri
Di setiap samudra yang kuarungi


                                         N.Nuriasa

puisi bebas tentang kebangkrutan

   

                                 

                              Tubuh Kering

                     Melambai kering dan jatuh

                     Setubuh inginkan kehijauan

                     Mereka berpandang dan berpaling

                     Pintanya aku lenyap di fana ini

                           Satu persatu daunku jatuh

                           Tersapu angin lalu kering

                           Membusuk dan membumi

                     Tuhan...................

                     Kudamba tetesMu penyegar sukma

                     Kuingin hijau kembali

                     Tak ada lagi ranting dan kering

 

                                                                           N.Nuriasa

                    

puisi bebas tentang alam.

                             

 Musnahnya Keangkuhan

Angin menerjang kilat menyambar
Awanpun kian menghitam
Kuasai mayapada dengan ketakutan
kulihat kau mendengkur berselimutkan kekawatiran
Angkuhmu lenyap tak berbekas
      Kemarin tanganmu begitu ringan
      Rusak belantara tempat air bersemayam
      tunggang langgang lari mereka
      binatang penghuni belantara
Sesalpun tiada arti
Umurmu pun tak cukup tuk mengembalikannya
Hanya satu yang dapat kita lakukan
Tanamkan kepribadian yang baik pada anak cucu
Sayangi alam dan seisinya
  

                                N.Nuriasa

DEWI [DEWI PARWATI]

                                               Indah malam ini di bebatuan yangg menyibak lautan giri emas.. menjadikan ku mengenang ...